Dulu, setelah menikah, aku mendambakan untuk segera dikaruniai sang buah hati di tengah keluarga. Alangkah indahnya, pikirku. Namun, Allah berkehendak lain. Selama dua tahun pernikahan aku baru dipercaya oleh-Nya dengan menitipkan janin di dalam rahimku. Berbeda dengan kakak perempuanku dengan singkat setelah menikah langsung hamil. Kata orang Jawa “Mapak”.
Begitu hamil semua keinginanku selalu dipenuhi oleh suami, layaknya ibu-ibu muda yang mengidam aku pun begitu. Alhamdulillah janin di perutku tumbuh dengan sehat, namun si jabang bayi keluar berusia 36 minggu tidak sesuai dengan HPL bidan kala itu. Karena air ketubanku pecah dini sehingga aku di larikan ke rumah sakit sampai dua malam di situ tidak ada tanda-tanda pembukaan. Dokter mulai mengambil langkah sigap yang menyarankan harus di sesar saat itu juga. Di sisi lain, aku menginginkan melahirkan normal. Kutepis semua angan yang penting anakku selamat.
Proses sesar berjalan lancar hingga aku diperbolehkan pulang ke rumah. Senang bukan kepalang dengan kehadiran sang buah hati yang sudah lama kunantikan. Kugendong anakku di pagi hari sembari “caring” lima belas menit telah berlalu tiba-tiba ada seorang tetangga menghampiriku. Entah dia mencari topik pembicaraan atau memang murni ingin tahu dengan melontarkan pertanyaan, melahirkannya bagaimana? Normal atau sesar? Wajar, ya, Ladies pertanyaan seperti itu. Tetapi ada sesuatu yang membuatku sedih atau marah, bercampur aduk rasanya ketika dia bilang kalau melahirkan sesar berarti kamu belum bisa menjadi seorang ibu sejati. Gemas rasanya tanganku ingin mencabik-cabik mulutnya. Dia pikir melahirkan normal saja seorang wanita baru dibilang ibu sejati? Bagiku tidak, keduanya membutuhkan perjuangan yang dahsyat dan nyawa taruhannya. Dalam benakku ketika masuk ruangan operasi kala itu hanya bisa membaca salawat dalam hati sambil berkata kalau memang Allah mengambil nyawaku hari ini pun aku sanggup demi si jabang bayi.
Terkadang sesuatu yang terjadi memang tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Apa pun itu, kita sebagai ibu, tentu sudah berusaha yang terbaik untuk melahirkan anak kita ke dunia ini.
Begitu hamil semua keinginanku selalu dipenuhi oleh suami, layaknya ibu-ibu muda yang mengidam aku pun begitu. Alhamdulillah janin di perutku tumbuh dengan sehat, namun si jabang bayi keluar berusia 36 minggu tidak sesuai dengan HPL bidan kala itu. Karena air ketubanku pecah dini sehingga aku di larikan ke rumah sakit sampai dua malam di situ tidak ada tanda-tanda pembukaan. Dokter mulai mengambil langkah sigap yang menyarankan harus di sesar saat itu juga. Di sisi lain, aku menginginkan melahirkan normal. Kutepis semua angan yang penting anakku selamat.
Proses sesar berjalan lancar hingga aku diperbolehkan pulang ke rumah. Senang bukan kepalang dengan kehadiran sang buah hati yang sudah lama kunantikan. Kugendong anakku di pagi hari sembari “caring” lima belas menit telah berlalu tiba-tiba ada seorang tetangga menghampiriku. Entah dia mencari topik pembicaraan atau memang murni ingin tahu dengan melontarkan pertanyaan, melahirkannya bagaimana? Normal atau sesar? Wajar, ya, Ladies pertanyaan seperti itu. Tetapi ada sesuatu yang membuatku sedih atau marah, bercampur aduk rasanya ketika dia bilang kalau melahirkan sesar berarti kamu belum bisa menjadi seorang ibu sejati. Gemas rasanya tanganku ingin mencabik-cabik mulutnya. Dia pikir melahirkan normal saja seorang wanita baru dibilang ibu sejati? Bagiku tidak, keduanya membutuhkan perjuangan yang dahsyat dan nyawa taruhannya. Dalam benakku ketika masuk ruangan operasi kala itu hanya bisa membaca salawat dalam hati sambil berkata kalau memang Allah mengambil nyawaku hari ini pun aku sanggup demi si jabang bayi.
Terkadang sesuatu yang terjadi memang tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Apa pun itu, kita sebagai ibu, tentu sudah berusaha yang terbaik untuk melahirkan anak kita ke dunia ini.
Ningrum Rahadian

Komentar
Posting Komentar